suluk kalijaga

Standar

hwehehe, tidak habis-habisnya saia melirik kreativitas Kanjeng Sunan Kalijaga.Seorang ulama yang dapat membawa diri dalam bergaulnya dengan segala lapisan masyarakat. Perampok berdarah Pangeran itu menyajikan derajat islam, dengan sosialisasi nakal.

beliau terkenal sebagai Syaikh Malaya, artinya muballigh yang menyiarkan agama dengan mengembara. Kalau kebanyakan para wali berdakwah dengan cara mendirikan pondok pesantren, maka Sunan Kalijaga lebih suka berdakwah dengan cara keliling daerah-daerah. Lebih suka mengenakan pakaian sederhana yang biasa dipakai kebanyakan rakyat daripada mengenakan jubah Walinya.

Kesukaan masyarakat benar-benar dimanfaatkan sebagai media dakwahnya. Dan ternyata membawa keberhasilan yang memuaskan, yaitu rakyat jawa disaat itu hampir seluruhnya dapat menerima ajakannya mengenal Islam. Sunan Kalijaga apabila berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit, ditiap daerah beliau mengenalkan dirinya dengan nama yang berbeda-beda. (Seperti di Jawa Barat beliau mengenalkan nama dirinya sebagai dalang bernama Ki Sida Brangti. Kalau di daerah Tegal lain lagi, disana beliau terkenal sebagai Ki Dalang Bengkok dan di Purbalingga masyarakat mengenal namanya Ki Dalang Kumendung.) Demikianlah bagian dari siasat penyebaran Sunan Kalijaga.

ARTWORKER
Terkenal di kalangan masyarakat tingkat atas sampai bawah, bahwa beliau adalah seorang wali yang memiliki keistimewaan tersendiri diantara para wali. Beliau sebagai muballigh yang ahli seni. Dalam tatacara dakwahnya, kepercayaan lama dan adat istiadat tidak ditentang begitu saja. masyarakat awam didekati dengan cara yang manis dan halus, sehingga dengan senang hati mereka menerima kehadirannya.
Dan lagi memang banyak seni dan ciptaannya, seperti :
Dalam seni pakaian beliau adalah orang pertama pencipta Baju Taqwa yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan dilengkapi dengan rangkaian keris dan lain sebagainya. Sampai sekarang baju ini masih tetap digemari oleh masyarakat Jawa..
Mengenai seni suara , beliau pencipta dan ahli repackage ulang yang handal. Dandang Gula, Sinom, Pangkur, Di antara tembang ciptaan Sunan Kalijaga yang masih akrab di kalangan masyarakat Jawa adalah tembang Ilir-ilir. Tentu masyarakat Jawa tidak asing lagi dengan tembang Ilir-ilir ini bukan!
– Ahli iseni ukir, yaitu menciptakan bentuk seni ukir bermotif dedaunan, bentuk gayor atau alat menggantungkan gamelan dan bentuk ornamentik lainnya yang kini dianggap sebagai seni ukir Nasional. Semua itu tak lain adalah ciptaan Sunan Kalijaga dan wali lainnya. Sebelum jaman para wali, kebanyakan seni ukir bermotifkan manusia dan binatang.
Beliaulah yang pertama kali mempunyai gagasan menciptakan bedug di masjid untuk memanggil orang shalat berjama’ah. Sunan Kalijaga memerintahkan muridnya Ki Pandanlarang atau Sunan Tembayat untuk membuat semacam drum besar untuk memanggil orang agar berkumpul di masjid.
Sesuai dengan bunyinya maka falsafah bedhug artinya : “deng-deng-deng- Isih sedeng-isih sedeng.” Atau masih muat-masih muat, (yaitu di dalam masjid masih muat atau cukup untuk shalat berjamaah). Kalau kentongan langgar berbunyi “thong-thong-thong, Isih kothong-isih kothong” artinya masih kotong atau masih kosong.
Grebeg Maulid adalah juga Sunan Kalijaga yang memprakarsainya, yaitu pada mulanya pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di masjid Demak untuk memperingati Maulid Nabi S.A.W.
Sunan Kalijagalah yang menciptakan Gong Sekaten. Gong Sekaten ini mempunyai falsafah: Gong Syahadataini yang maknanya dua kalimah syahadat.
Meliputi keneng, kempul, genjur. Semua gamelan itu bila dibunyikan bersama akan membentuk suara kesatuan yang unik, yaitu “nong-ning, nong kana nong kene, pumpung mumpung-mumpung, pul-pul-pul, ndang-ndang endang-endang tak ndang ndang tandang nggur, jegum.”
Artinya: di sana di situ di sini, mumpung masih ada waktu atau masih hidup, berkumpullah dan cepat-cepat masuk agama Islam.
Karena demikian cara yang dipilihnya, pantaslah kalau orang-orang memberi gelar Ahli Budaya.

Cerita kecil..
Pada saat membangun masjid Demak tidak terjadi perselisihan yang rumit, saat meresmikan terjadi perbedaan pendapat antara Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.

Sunan Kalijaga menginginkan peresmian itu dibuka dengan pagelaran wayang kulit. Masyarat diundang, mereka harus masuk melalui pintu gerbang, karcisnya dengan membaca syahadat. Bila mereka sudah berkumpul, maka mereka akan diberi ceramah agama. Lakok wayang diberi warna Islam. Inilah rencana Kaum Abangan.
Kaum Putihan lain lagi, Sunan Giri menghendaki peresmian Masjid Demak dibuka sambil melaksanakan shalat Jumat tanpa tontonan wayang karena tontonan wayang adalah haram hukumnya. Semua gambar makhluk hidup yang bernyawa adalah haram hukumnya. Sedang wayang pada jaman itu gambarnya persis manusia.

Sunan Kalijaga tidak kekurangan akal. Beliau mengubah gambar wayang seperti yang kita lihat kini, sehingga sukar dikatakan bahwa gambar wayang yang diubah Sunan Kalijaga itu adalah gambar manusia. Dengan demikian hukumnya tidak haram lagi.
Lalu bentuk wayang yang bernama Bethara Guru (yaitu Pemimpin Para Dewa) diubah seperti adanya sekarang. karena gagasan untuk mengubah bentuk wayang itu adalah Sunan Giri maka Sunan Kalijaga memberi nama Sang Hyang Girinata kepada Bethara Guru. (artinya Sunan Giri yang menata..)

Kemudian dicapailah kata sepakat, Masjid Demak dibuka dengan jamaah shalat Jumat, sesudah itu diadakan tontonan wayang kulit. Dalangnya adalah Sunan Kalijaga sendiri.

Inilah hikmah adanya perbedaan, sebagaimana sabda Nabi bahwa perbedaan di kalangan umat adalah rahmat. Dengan adanya perbedaan pendapat antara Sunan Giri dan Sunan Kalijaga maka timbullah gambar wayang kulit seperti sekarang ini, yang mempunyai citra seni yang tinggi. Di dunia ini hanya di Tanah Jawa yang punya kebudayaan wayang kulit dengan nilai seni tinggi.

Pertemuan dengan Nabi Khidir
Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir.

Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:

Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu;
dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya;
Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga.
Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya,
saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal/terpuji itu.. (ialah),
yang dapat menyebutkan,
diakhir adanya ‘itu’, (situasi diluar manusia)
Mengakui menyebut yang ‘ini’.(kembali menuju diri sendiri)
Demikianlah yang difirmankan Allah
kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami

Kalau tidak ada dirimu,
Allah tidak dikenal/disebut-sebut;
Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku;
Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah,
menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pengeran,
ya Allah ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu,
menyatu dengan Tuhan.
Menyatu dengan Allah,
baik di dunia maupun di akherat.
Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu.
Makrifat sebutannya.
Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian),
hidup menyatu dalam kehidupan Sujud rukuk sebagai penghiasnya.
Rukuk pada keberadaan Tuhan

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah.
itulah yang disebut dengan sekarat.
Ruh idhofi tak akan mati;
Hidup mati, mati hidup

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (S.Kalijaga) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

mati di dalam kehidupan.
Atau sama dengan hidup dalam kematian.
Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya.
Lahiriah badan yang menjalani mati.
Tertimpa pada jasad yang sebenarnya.
Kenyataannya satu wujud. Jelasnya mengalami kematian!
Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini kau terima dengan hatimu yang lapang.
Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal GUSTI ALLAH dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Demikianlah sedikit kisah Sunan Kalijaga, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s