koin jawa

Standar

Expedisi “de Houtman bersaudara” Frederick & Cornelis de Houtman yang berlabuh di Banten tahun 1596 hingga didirikanya Compagnie van Verre (Perusahaan Jarak Jauh), merupakan cikal bakal terjadinya penjajahan Belanda di Bumi Nusantara dengan berdirinya Pemerintahan Hindia Belanda (1816-1942), yang didahului dengan berdirinya VOC.
Latar belakang Expedisi “de Houtman” adalah perdagangan, begitu juga VOC. Saya tidak sependapat dengan pendapat yang sering kita dengar selama ini bahwa penjajahan Belanda berlangsung selama 3,5 abad. Alasan saya adalah kurun waktu 3,5 abad tersebut dihitung dari sejak de Houtman datang (1596) atau berdirinya VOC (1602) sampai Indonesia merdeka pada tahun 1945. Menurut saya, masa penjajahan dimulai dari masa setelah bangkrutnya VOC di tahun 1799 yang berlanjut dengan didirikannya Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1816 – 1942 ( 126 tahun masa penjajahan )
Banyak kejadian masa lampau yang menjadi dasar pemikiran saya sehingga menyimpulkan bahwa penjajahan tidak berlangsung selama itu. Kejadian-kejadian tersebut antara lain adalah Belanda baru melakukan perdagangan monopoli di Banten (hanya perdagangan, bukan penjajahan) setelah terjadinya kemelut perselisihan antara bapak dan anak, yaitu Sultan Muda/Sultan Haji dan ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa (baca artikel Penemuan Koin-Koin Banten di Sungai Thames, London tentang Banten). Alasan lainnya adalah Kesultanan Palembang yang baru bisa ditaklukan Belanda di sekitar tahun 1853, dan masih banyak lagi kejadian serupa.
Saya tidak mau memperdebatkan sejarah karena itu bukan bidang saya. Yang saya maksudkan dengan menyampaikan hal di atas adalah untuk menggiring pembaca kepada suatu kejadian yang terkait dengan numismatika, yang juga dapat menunjukkan/mendukung pendapat bahwa penjajahan tidak berlangsung selama itu. Mana mungkin suatu daerah yang sudah menjadi tanah jajahan, dapat menerbitkan mata uang setelah mendapatkan ijin dari penguasa setempat yang seperti terjadi dalam kasus lahirnya mata uang koin “Java Rupee”.
Pada tahun 1743 Susuhunan Mataram mengijinkan dan memberikan hak kepada VOC untuk mencetak koin yang selanjutnya disebut koin “Java Rupee”. Tak lama setelah ijin diberikan oleh Susuhunan Mataram kepada VOC, dimulailah proses pembuatan Java Rupee yang diawali dengan pemilihan/pengujian berbagai koin dari daerah lain. Pilihan akhirnya jatuh kepada koin Rupee dari Surrat (Coromandel) dengan pertimbangan berat perak dan kadarnya yang kemudian akan disesuaikan dengan kurs di Jawa. Koin tersebut sebenarnya bernama “Derham/Dirham”, namun karena istilah “Rupee” lebih populer dibandingkan istilah “Derham/Dirham”, maka akhirnya disebutlah dengan nama “JAVA RUPEE”.
Pada awalnya diputuskanlah untuk mencetak koin Ducat, yang selanjutnya disebut “derham Djawi”, yaitu koin emas dengan kadar 20 karat (0,833) dan berat 4,57 gram, yang pada akhirnya dikurangi menjadi 4,29 gram. Pada waktu itu terdapat peraturan yang memperbolehkan seseorang mengkonversikan emasnya menjadi koin Ducat dengan pecahan ¼, ½, 2, dan 4 Ducat. Namun pada kenyataanya koin Ducat tersebut tidak pernah ditemukan. Derham Jawi/Ducat Jawa kadang disebut juga dengan Dinar, bahkan Rupee. Dirham secara umum berarti “Perak”, sedangkan koin emas umumnya disebut Dinar, namun dalam perkembangan penyebutan, Dirham bisa juga diterjemahkan sebagai uang.
Pada awalnya koin emas Rupee Jawa/Derham Jawi/Ducat Java memiliki berat lebih 1/4 gram dari koin emas Rupee India. Koin emas mulai dibuat tahun 1744 namun dihentikan pada tahun 1748 dan dibuat lagi mulai tahun 1751. Koin perak terus dilanjutkan sampai dengan cetakan tahun 1750.
Pada tahun 1747 Rupee perak mulai dibuat, namun pada rupee yang dikeluarkan dengan emisi tahun 1747, 1748, 1749 dan 1750 mempunyai bentuk tidak seperti yang kita kenal sekarang sebagai “Java Rupee” Perak. Rupee pada periode tersebut berbentuk menyerupai Ducat dengan tulisan Arab yang agak besar. Sementara hanya 4 tahun emisi itulah Java Rupee dicetak sampai periode tahun 1760 dan dalam periode tersebut, bersamaan dengan Java Rupee diberlakukan juga secara sah matauang rupee dari Coromandel. Rupee dari Persia yang distempel (countermark) dengan tulisan “Djawa” dlm huruf Arab yaitu antara lain Rupee dari “Shah Adil” (A.D. 1747-48/A.H.1161), Rupee dari Nadir Shah (A.D 1736-47/A.H, 1744/45) dll. Dengan dicetaknya Java Rupee tersebut sekaligus mengakhiri peredaran berbagai macam matauang yang secara sah beredar pada periode 1743-1760. Java Rupee baru dicetak lagi pada tahun 1764, diteruskan dengan tahun 1765 dan 1767, setelah dianggap cukup sebagai persediaan, maka pencetakan dihentikan.
Pada tahun 1782, terjadi kekurangan persediaan uang. Untuk mengatasi situasi tersebut terjadi perdebatan yang sengit sehingga diputuskan yaitu dengan memasukan/membawa lagi semua koin emas dari luar Netherlands Indies, seperti koin Rupee Persia pecahan 1, ½, dan ¼ Rupee serta Ducat Turki. Semuanya itu untuk diedarkan kembali sebagai alat transaksi yang sah. Selanjutan di penghujung tahun 1782 dibuka kembali percetakan uang Java Rupee dan dihentikan kembali tahun 1789. Pencetakan Java Rupee kemudian diputuskan untuk dilanjutkan kembali pada tahun 1795, dan selanjutnya ditutup lagi tahun 1800. Di tahun penghujung penutupan percetakan (1780), koin Java Rupee dibuat dari batangan perak milik pemerintah. Tak lama kemudian terjadilah blokade pelabuhan Batavia oleh Inggris. Guna memenuhi permintaan akan uang dalam peredaran, dengan terpaksa pemerintah mengubah sejumlah US$ 150.000 dan 26.250 Dollar Spanyol menjadi koin Java Rupee.
Semasa pendudukan Inggris terhadap daerah jajahan Belanda (Netherlands Indies), bentuk Java Rupee diubah menjadi lebih tipis dan lebih besar seukuran koin 1 Gulden. Karena kesulitan bahan baku maka semua “keizerdaalder” (koin dengan potret raja) diubah menjadi koin Java Rupee, yang kira-kira berjumlah 162.185 keping (menurut Moquette), tapi menurut laporan percetakan jumalah keping yang dilebur sebagai bahan baku adalah berjumlah 83.833 keping.
Perubahan rupee baru dengan diameter yang lebih besar, lebih tipis, bahkan dengan modifikasi inskripsi dimaksudkan untuk memperbaiki disain koin. Namun hal itu ternyata mengakibatkan hasil yang lebih kasar dibandingkan koin rupee sebelumnya. Sebagian tulisan Arab juga diubah. Sampai sekarang tidak ada seorangpun yang menemukan penjelasan serta alasan dari perubahan tersebut.
Sebelum perubahan tulisan pada sisi depan (obverse) koin adalah “Lla djazirat Djawa al-kabir”, belakang (reverse) “Derham min Kompani Welandawi”. Pada Rupee yang baru bertuliskan “djazirat Djawa al-kabir” di sisi depan (obverse) dan “Derham fi al-kompani al-wilandawi” di sisi belakang (reverse).
Walaupun belum ada yang mampu memberi penjelasan yang memuaskan, namun Mr.H.C.Klinkert memberi terjemahan atas tulisan tersebut dengan “Coin in behalf of the Holland Company,(?),Island of Java the Great”-“Koin yang mewakili perusahaan Belanda,(?),Pulau Jawa besar”.
Salah satu langkah pertama yang dilakukan pihak Inggris adalah mengakhiri berlakunya uang kertas “perusahaan”, langkah ini mengakibatkan terjadinya depresiasi mata uang hingga 85%. Mata uang “Bonk” juga tidak boleh dipakai lagi, begitu juga dengan Rixdollar – kertas yang bernilai 48 Stuiver. Pembukuan berdasarkan pada dollar Spanyol namun segera setelah peraturan tersebut diubahlah aturan bahwa pembukuan berdasar “Java Rupee” pada kurs 30 stuiver sebagai standard mata uang koin.
Walaupun dalam periode 1811–1816 Inggris menjadi penguasa, namun mintmaster-Coins (percetakan) tetap diserahkan kepada seorang Belanda yaitu “J.A Zwekkert”. Pada masa pendudukan Inggris ini antara tahun 1813-1814 dicetak juga pecahan ½ Rupee. Dan percetakan ditutup lagi pada tahun 1815, akan tetapi pihak percetakan masih diijinkan mencetak koin Rupee Emas dan Perak yang khusus diperuntukan bagi perorangan.
Setelah Belanda merebut kembali tanah jajahannya pada tahun 1816, percetakan koin Java Rupee dilanjutkan lagi dengan menggunakan master cetakan koin Java Rupee yang digunakan Inggris. Semua koin Java Rupee selama pemerintahan Inggris dicetak di Surabaya dengan tahun 1813, 1814, 1815, 1816, dan 1817. Adapun inskripsi yang ada pada mata uang koin Rupee adalah pada bagian depan (obverse) ditulis dalam bahasa Jawa dan pada bagian belakang (revese) ditulis dengan tulisan Arab melayu sebagai berikut:
Bagian depan (obverse): tulisan Jawa “Kempni Hinglis Joso hing Suropringgo” (perusahaan Inggris dibuat di Surabaya)
Bagian belakang (reverse): tulisan Arab melayu “Sikkah Kompani sanah dhuriba dar djazirat Djawa” (koin perusahaan Inggris dicetak di pulau Jawa).
Sumber:
The Coin of The Dutch Overseas Territories (oleh C. Scholten)
Wikipedia
Buletin ANI
Berbagai buku bacaan Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s