babad tanah jawi : mijil

Standar

6 6 1 2 2 2 2 1 2 3
Dedalane guna lawan sekti
1 6 1 1 1 2 2
Kudu Andhap asor
1 2 3 12 6 5 5 5 6 53
Wani ngalah,luhur wekasane
2 3 5 6 5 3 3 3 3 3
Tumungkula yen dipun dukani
5 6 6 6 6 6
Bapang den simpangi
5 3 5 5 65 32
Ana catur mungkur

Poma kaki, padha dipun eling
Mring pitutur ing ngong
Sira uga, satriya arane
Kudu anteng jatmika ing budi
Ruruh sarta wasis
Samubarangipun

Budaya Jawa mengajarkan agar orang selalu bersikap rendah hati. Andhap asor artinya Rendah Hati, tetapi bukan Rendah Diri. Lawan rendah hati adalah tinggi hati, congkak, sombong dan sebagainya. Sikap rendah hati tercermin dalam aksara Jawa, ha na ca ra ka da ta sa wa la pa da ja ya nya. Bisa dilihat Abjad dalam Jawa tersebut ditulis tidak di atas garis, tetapi ditulis di bawah garis.
Pada zaman Jaka Tingkir, seorang satria Jawa sudah dianjurkan untuk selalu bersikap andhap asor. Hal itu antara lain tercantum pada Sekar Macapat (Tembang) Mijil diatas.
Artinya kurang lebih: Jalan menuju bijak dan sakti, harus rendah hati, berani mengalah (bukan kalah) akhirnya pasti mulia, menunduklah jika dimarahi (orang tua), hindari segala hambatan, (hindari cerita yang tak bernilai).
Perasaan orang Jawa terlihat pada sifat Aji, ngajeni, hormat, kepada orang yang lebih tinggi usianya atau lebih tinggi kedudukannya. Bahkan sifat hormat tersebut bisa meningkat ke sifat kagum untuk suatu hubungan orang tertentu.
Zaman dulu sifat andhap asor amat dianjurkan kepada kaum muda di kalangan kraton, baik kepada para pangeran (anak raja), sentana dalem (keturunan raja), dan para abdi dalem (punggawa, pegawai kraton).
Ketika kerajaan Sukartahadingrat dipimpin oleh Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Pakubuwana IV (1788 – 1820 M), beliau menulis sejumlah buku panduan untuk Character Building, pembinaan budi pekerti bagi masyarakat umum dan bagi kaum muda.
Pada zaman dulu pembinaan budi pekerti di kalangan para pemimpin dan para calon pemimpin mendapat prioritas utama. Sebab raja berpendapat untuk membangun negeri dan rakyatnya agar tercapai suasana aman sejahtera, yang pertama dan utama adalah membangun budi para pemimpin, baru kemudian kepada seluruh warganya. Pembangunan sarana dan prasarana hidup yang baik dan besar biayanya, tak bakal berguna jika para pemimpin dan para kawulanya berakhlak rendah.

Salah satu buku untuk pembinaan budi pekerti tersebut berjudul Wulangreh.
Wulangreh adalah buku kumpulan Sekar atau Tembang yang memang ditata khusus berisi ajaran hidup mulia. Dalam Wulangreh berisi tembang (macapat) Dandanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Duduk Wuluh, Durma, Wirangrong, dan Pocung. Kata Wulangreh sebagian orang mengartikan sebagai pelajaran (wulang) untuk memerintah (reh); untuk memerintah orang lain maupun memerintah (jiwa, batin) diri sendiri. Pembinaan akhlak lewat tembang diharapkan untuk menarik siapa saja yang mendengarnya.

(Babad Tanah Jawa; Balai Pustaka)
Sumber :http://donatforex.blogspot.com/ | http://bimablog-bimablog.blogspot.com/
http://nguripuripbasajawa.blogspot.com/ | http://alangalangkumitir.wordpress.com/
http://harsadi-soekardjo.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s