batara kala mencari mangsa

Standar


Menurut pewayangan Jawa

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan “Buto” (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi (bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
pancuran kapit sendang anak tiga lelaki ditengah
Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

Abstrak
Religi masyarakat Jawa memandang bahwa jagad raya merupakan satu kesatuan yang serasi dan harmonis, tidak lepas satu
dengan yang lain dan selalu berhubungan. Jagad raya terdiri dari jagad gede (makrokosmos – alam di luar manusia) dan
jagad cilik (mikrokosmos – alam manusia). Antara jagad gede dan jagad cilik tidak selalu dalam keadaan stabil, namun
mengalami juga kelabilan. Kelabilan yang terjadi di dalam jagad gede, sebagai akibat dari ulah yang ditimbulkan oleh jagad
cilik, atau sebaliknya. Keteraturan di dalam jagad gede dan jagad cilik adalah terkoordinasi dan apabila masing-masing
berusaha keras ke arah kesatuan dan keseimbangan, maka hidup akan lebih tentram dan harmonis. Masyarakat Jawa selalu
berusaha menjaga keharmonisan jagad raya. Apabila terjadi disharmoni dalam jagad raya, mereka biasanya menyelenggarakan
upacara-upacara. Upacara ruwatan merupakan salah satu bentuk usaha masyarakat Jawa untuk menyeimbangkan jagad
raya dari kelabilan. Manusia oleh karena suatu sebab terkena sukerta (noda), maka ia harus diruwat (dibebaskan) dari mala
petaka (mangsa Batara Kala). Dalam upacara ruwatan biasanya dipergelarkan wayang kulit, yang menyajikan lakon khusus
Murwakala atau Sudamala.

1. Pendahuluan
Lowell D. Holmes mengatakan bahwa culture is defi ned
in Anthropology as the learned, shared behavior that
man acquires as a member of society. Although culture
is a key concept in many of the social sciences, it has
been Anthropology, more than any other dicipline, that
has led the way in defi ning and studying this abstract
concept which is such a great factor in determining
man’s behavior and personality (Holmes 1965). (di dalam
Antropologi, kebudayaan diartikan sebagai perilaku yang
dipelajari dan dimiliki bersama oleh manusia sebagai
anggota masyarakat. Meskipun kebudayaan adalah
konsep inti dalam banyak bidang ilmu sosial, akan
tetapi Antropologilah yang telah membuka jalan dalam
mendefi nisikan dan mempelajari konsep abstrak ini yang
menjadi faktor penting dalam menentukan perilaku dan
kepribadian manusia).
Kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil
kelakuan manusia yang harus didapatkannya dengan belajar
dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat
(Koentjaraningrat 1969). Kebudayaan mempunyai paling
sedikit tiga wujud, yaitu: 1) wujud kebudayaan sebagai
suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, normanorma,
peraturan dan sebagainya; 2) wujud kebudayaan
sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia
dalam masyarakat; dan 3) wujud kebudayaan sebagaibenda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat
1990). Kompleks gagasan yang oleh Koentjaraningrat
juga disebut kebudayaan idiil, tersimpan antara lain
dalam kesusasteraan, yaitu ungkapan pikiran, cita-cita,
serta renungan manusia pada saat tertentu. Ia merupakan
landasan bagi kelakuannya dalam masyarakat tersebut
yang masih dapat diamati. Ungkapan tersebut diwujudkan
dalam berbagai bentuk, antara lain adat-istiadat, upacaraupacara
peribadatan, doa, mantra-mantra, cerita rakyat,
yang semuanya itu tergolong kesasteraan lisan dan dalam
kesasteraan tulisan (Baried 1987).
Pada prakteknya, manusia hidup bermasyarakat diatur
oleh suatu aturan, norma, pandangan, tradisi, atau
kebiasaan-kebiasaan tertentu yang mengikatnya, sekaligus
merupakan cita-cita yang diharapkan untuk memperoleh
maksud dan tujuan tertentu yang sangat didambakannya.
Aturan, norma, pandangan, tradisi, atau kebiasaankebiasaan
itulah yang mewujudkan sistem tata nilai untuk
dilaksanakan masyarakat pendukungnya, yang kemudian
membentuk adat-istiadat. Koentja-raningrat mengatakan
bahwa adat-istiadat sebagai suatu kompleks norma-norma
yang oleh individu-individu yang menganutnya dianggap
ada di atas manusia yang hidup bersama dalam kenyataan
suatu masyarakat (Koentjaraningrat 1969).
Tanah air Indonesia, yang terdiri dari pulau-pulau,
suku-suku bangsa, dan bahasa-bahasa daerah terdapat
berbagai adat-istiadat yang kemudian diatur dan ditata
oleh masyarakat pendukungnya, sesuai dengan tujuan dan
harapan yang didambakannya. Di dalam masyarakat Jawa
misalnya, adat-istiadat yang kini masih dipertahankan,
dilestarikan, diyakini, dan dikembangkan, benar-benar
dapat memberikan pengaruh terhadap sikap, pandangan,
dan pola pemikiran bagi masyarakat yang menganutnya.
Adat-istiadat Jawa tersebut sangat menarik sebagai
bahan kajian budaya, karena didalamnya memuat hal-hal
yang bersifat unik. Ditengok dari segi kesejarahannya,
adat-istiadat Jawa telah tumbuh dan berkembang lama,
baik di lingkungan kraton maupun di luar kraton. Adatistiadat
Jawa tersebut memuat sistem tata nilai, norma,
pandangan maupun aturan kehidupan masyarakat,
yang kini masih diakrabi dan dipatuhi oleh orang Jawa
yang masih ingin melestarikannya sebagai warisan
kebudayaan yang dianggap luhur dan agung. Dalam
usahanya untuk melestarikan adat-istiadat, masyarakat
Jawa melaksanakan tata upacara tradisi sebagai wujud
perencanaan, tindakan, dan perbuatan dari tata nilai yang
telah teratur rapi. Sistem tata nilai, norma, pandangan
maupun aturan yang terpancar dan diwujudkan dalam
upacara tradisi pada hakekatnya adalah pengejawantahan
dari tata kehidupan masyarakat Jawa yang selalu
ingin lebih berhati-hati, agar dalam setiap tutur kata,
sikap, dan tingkah-lakunya mendapatkan keselamatan,
kebahagiaan, dan kesejahteraan baik jasmaniah maupunrokhaniah. Tata upacara tradisi yang masih dipatuhi dan
diakrabi serta tumbuh dan berkembang di tengah-tengah
masyarakat Jawa pada prinsipnya merupakan siklus dan
selalu mengikuti dalam kehidupan mereka, sejak seseorang
belum lahir (di alam kandungan), lahir (di alam fana), dan
meninggal (menuju alam baka).
Upacara tradisi Jawa yang diperuntukkan bagi manusia
sejak dalam alam kandungan hingga meninggal itu sering
disebut upacara selamatan. Upacara selamatan yang
diperuntukkan bagi manusia yang belum lahir tersebut,
seperti: kehamilan bulan ke tiga (neloni), kehamilan
bulan ke empat (ngapati), dan kehamilan bulan ke tujuh
(mitoni/ tingkeban). Setelah manusia dilahirkan di dunia,
maka bentuk upacara yang diperuntukkan baginya, antara
lain: kelahiran bayi (brokohan), lima hari (sepasaran),
puput pusar, tiga puluh lima hari (selapanan), sunatan,
tedak siten, perkawinan, dan ruwatan. Sedangkan upacara
selamatan bagi manusia yang telah meninggal, yaitu:
saat meninggal dunia (geblak), hari ke tiga, hari ketujuh,
hari ke empat puluh, hari ke seratus (nyatus), satu tahun
(pendhak pisan), dua tahun (pendhak pindho), dan tiga
tahun (pendhak katelu/ nyewu).
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiokultural.
Pentingnya teks, situasi kebahasaan, dan cara penyebaran
sastra tidaklah begitu ditekankan. Namun pendekatan ini
mengutamakan pengaruh timbal balik antara sastra dan
kehidupan yang berkenaan dengan moral dan kultural.
Pengertian moral dalam hal ini, disamping pembelaan
terhadap nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam
masyarakat, juga sastra merupakan tanggapan evaluatif
terhadap kehidupan. Pendekatan ini menekankan pula
aspek intelektual dan sosial. Teks naskah ruwat (Ruwatan:
Ingkang Karuwat Tiyang Adang Karubuhan Dandang),
nomor koleksi FSUI/WY 92 – W 64.02, (Suparjo 1941)
akan didekati dengan metode sosiokultural ini.

3. Analisis dan Interpretasi Data
Salah satu upacara tradisi yang sekarang masih ditaati,
dipatuhi, diyakini, dan dilaksanakan oleh masyarakat
Jawa yaitu tata upacara ruwatan. Ruwatan berasal dari
kata “ruwat” dan mendapatkan sufi k –an. Kata “ruwat”
mengalami gejala bahasa metatesis dari kata “luwar”, yang
berarti terbebas atau terlepas. Maksud diselenggarakan
upacara ruwatan ini adalah agar seseorang yang “diruwat”
dapat terbebas atau terlepas dari ancaman mara bahaya
(mala petaka) yang melingkupinya. Seseorang yang oleh
karena sesuatu sebab ia dianggap terkena sukerta/ aib (klesa
= Jawa Kuna), maka ia harus diruwat. Tradisi kepercayaan
yang dimiliki masyarakat Jawa, bahwa seseorang yang oleh karena suatu peristiwa terkena sukerta, ia akan
menjadi mangsa Batara Kala. Untuk dapat melepaskan/
membebaskan seseorang dari ancaman Batara Kala,
maka masyarakat Jawa yang meyakini menyelenggarakan
upacara ruwatan, yang telah tertata dan diatur
secara tertib. Usaha yang dilaksanakan oleh masyarakat
Jawa dengan mengadakan upacara ruwatan tersebut
tak lain adalah untuk melindungi manusia dari segala
ancaman bahaya. Koentjaraningrat memasukkan upacara
ngruwat sebagai ilmu gaib protektif, yaitu upacara yang
dilakukan dengan maksud untuk menghalau penyakit
dan wabah, membasmi hama tanaman dan sebagainya,
yang seringkali menggunakan mantra-mantra untuk
menjauhkan penyakit dari bencana (Koentjaraningrat
1984). Dengan demikian masyarakat yang melaksanakan
upacara ruwatan percaya bahwa mereka akan terlindungi
dari ancaman mara bahaya. Thomas Wiyasa Bratawijaya
pernah menyebutkan seseorang yang seharusnya
diruwat, seperti: kedana-kedini, ontang-anting, julung
wangi, julung pujud, margana, gondang kasih, dampit,
unting-unting, lumunting, pendawa, pendawi, uger-uger
lawang, kembang sepasang, orang yang menjatuhkan
dandang, mematahkan batu gilasan, menaruh beras di
dalam lesung, mempunyai kebiasaan membakar rambut
dan tulang, dan membuat pagar sebelum rumahnya jadi
(Bratawijaya 1988).
Dalam upacara ruwatan sering dipergelarkan pertunjukan
wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional
yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan
boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan (Wibisono
1983). Dalam pertunjukan wayang ini disajikan lakon
wayang secara khusus. Lakon wayang yang disajikan
sebagai sarana upacara ruwatan ini biasanya Murwakala
dan Sudamala. Baik lakon Murwakala dan Sudamala,
keduanya termasuk wayang pada zaman purwa. Wayang
zaman purwa terbagi atas 4 bagian, yaitu: mitos-mitos
permulaan kosmos mengenai dewa, raksasa, dan
manusia; Arjunasasrabau, yang memuat pendahuluan
epos Ramayana; Ramayana; dan Mahabharata (Suseno
1985). Di dalam wayang dikandung hakekat kehidupan
yang sangat mendasar. Aspek penting dalam kaitannya
dengan hakekat wayang ialah masyarakat Jawa sering
mengaitkan antara peristiwa yang terjadi di dalam dunia
wayang dengan dunia nyata. Hakekat wayang adalah
bayangan dunia nyata, yang didalamnya terdapat makhluk
ciptaan Ilahi, seperti: manusia, tumbuh-tumbuhan,
hewan, dan bahkan dunia seisinya. Pembayangan itu
berisi tentang gambaran kehidupan manusia, terutama
mengenai sifat keutamaan/ kemuliaan dan keangkaraan/
kejahatan. Peristiwa yang terjadi dalam dunia nyata,
yang disebabkan oleh sesuatu hal sehingga seseorang
terkena sukerta, akan menjadi mangsa Batara Kala.
Dalam wayang, visualisasi Batara Kala adalah dewa
berwajah raksasa yang tinggi, besar, menyeramkan dan menakutkan. Kala berarti waktu, ini mengisyaratkan
kepada seseorang, apabila ia tidak memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya, akan menjadi orang bodoh, karena tergilas
oleh waktu yang dikuasai oleh Batara Kala, sebagai Dewa
Waktu (Bratawijaya 1988). Anggapan-anggapan ini lamakelamaan
menjadi keyakinan yang kokoh di dalam hati
sanubari mayarakat Jawa. Agar terhindar dari ancaman
Batara Kala, mereka mengadakan upacara ruwatan dengan
sarana pertunjukan wayang dengan lakon khusus, yaitu
Murwakala atau Sudamala.
Lakon Murwakala itu sendiri sangat populer dalam
masyarakat Jawa, khususnya di kalangan para dalang.
Secara etimologi, murwakala berasal dari kata “murwa”
dan “kala”. “Murwa” bentukan dari kata “purwa” yang
berarti awal, asal-muasal, permulaan atau sebab-musabab.
Sedangkan “kala” berarti waktu. Murwakala berarti
menelusuri permulaan kala. Kala adalah tokoh dewa/
batara, suami Batari Durga. Lakon ini mengisahkan
bagaimana awal, asal-muasal, sebab-musabab, atau
permulaan tokoh Batara Kala. Murwakala adalah lakon
yang pada masa kini dikatakan paling mustajab untuk
menolak bahaya magis. C.C. Berg mengatakan bahwa
lakon ini mengisahkan tokoh Batara Kala, seorang
dewa raksasa yang menjelma sebagai akibat hawa nafsu
jahat dari Batara Guru lalu mencari manusia sebagai
mangsanya, tetapi pada suatu pertunjukan wayang
dibinasakan oleh dalang dengan jampi-jampi, dan lakon
ini dianggap demikian besar kekuatan gaibnya, sehingga
tidak dipertunjukkan tanpa mengambil berbagai tindakan
perlindungan (Berg 1974).
Lakon Murwakala dapat dipaparkan sebagai berikut
(seperti yang dilaksanakan oleh dalang Hardaguna, di
kediaman Mas Hatmakarjana, seorang kamituwa desa
Maja, Pracimantara, Wonogiri, yang kemudian diceritakan
kembali oleh Suparja: naskah koleksi FSUI/WY 92 – W
64.02). Upacara ruwatan itu dilaksanakan pada hari Akad
(Minggu) Pon, jam 10 pagi, tanggal 6 Juli 1941 (Suparjo
1941).
Batara Guru dan Narada turun ke dunia, memerintahkan
dalang Sejati supaya memberikan pertolongan kepada
seseorang di desa Maja yang menjadi mangsa Batara
Kala. Pada suatu saat Batara Guru naik sapi Andini,
namun di tengah jalan ia menabrak Batara Kala, dan
terbangun. Batara Kala menggugat Batara Guru karena
selalu menghalang-halangi mangsanya. Batara Guru
memberikan nasihat kepada Batara Kala, bahwa ia bisa
ruwat dari segala mangsanya oleh seorang dalang yang
mendalang siang hari.
Sementara Dewi Uma menggugat juga kepada dewata
karena mangsa Batara Kala selalu dikurangi, pada saat
itulah Uma mendapatkan kutukan sehingga berubah wujud menjadi Durga. Dewata memerintahkan agar Durga ke
desa Maja, di situlah ia akan teruwat oleh dalang Sejati
atau dalang Sampurna. Durga kemudian mengembara dan
bertemu dengan Batara Kala. Batari Durga memberikan
banyak bala tentara kepada Batara Kala yang terjadi
dari air seni. Batari Durga kemudian mencari telaga
pangruwatan dan Batara Kala melanjutkan perjalanan
menuju desa Maja.
Seorang ksatria tampan, ontang-anting bernama Garuda
Lare dikejar-kejar Batara Kala, kemudian ia bersembunyi
di balik periuk besar (dandang) yang sedang dipakai
merebus air. Periuk besar itu roboh sehingga air panasnya
tumpah mengenai kaki Batara Kala, luluh. Butapa dan
Butapi diperintahkan Batara Kala menggoda ksatria
tersebut, namun ksatria itu tetap bersembunyi di balik
periuk besar yang pecah tadi. Batara Kala setelah tidak
menemukan ksatria itu, kemudian pergi.
Batara Kala bertemu dengan Bapa Truna, seorang
ontang-anting mencari telaga pangruwatan. Bapa Truna
akan dimangsa Batara Kala; terjadilah perang, namun
Batara Kala lari meninggalkan tempat. Batara Kala di
tengah perjalanan bertemu dengan Garuda Lare dan
ingin memangsanya. Garuda Lare lari dan Batara Kala
terus mengejar. Garuda Lare bertemu dengan seorang
wanita sedang hamil di desa Sendang Kawit. Wanita itu
duduk di tengah-tengah pintu. Garuda Lare kemudian
menasihatinya, bahwa tidak pantas ia duduk di tengahtengah
pintu, karena ia akan menjadi mangsa Batara Kala.
Wanita itu pun menuruti nasihat Garuda Lare.
Batara Wisnu dan Dewi Sri menerima kedatangan
Batara Narada. Batara Narada memerintahkan mereka
agar turun ke dunia bertempat tinggal di Mendanggawa.
Wisnu menjadi dalang bernama Sejati atau Sampurna.
Dewi Sri sebagai penggender, dan Batara Narada sebagai
nayaga bernama Cupak. Mereka berangkat menuju
Sendanggawa.
Hatmakarjana minta pertolongan kepada dalang agar
meruwatnya, karena baru saja terkena sukerta, yaitu
kerobohan periuk besar, termasuk salah satu mangsa
Batara Kala. Batara Kala dilempar gecok (daging mentah
untuk sajen) oleh dalang. Dalang kemudian membakar
kemenyan. Dalang Sejati bertemu Batara Kala. Batara
Kala bertanya: “Lakon apa itu?”. Dalang menjawab:
“Lakon Kandhabuwana menceritakan jagad gede dan
jagad cilik”. Dalang kemudian membaca ciri pada dada
Batara Kala. Setelah ciri tersebut terbaca, Batara Kala
ingin melihat cirinya itu. Dalang mulai membaca mantra
panulak setan brekasakan berupa carakan balik, sebagai
berikut:
Nga tha ba ga ma
Nya ya ja dha pa
La wa sa ta da
Ka ra ca na ha
Dilanjutkan mantra setra bedhati:
Ya midusa sadumiya
Ya miruda darimiya
Ya siyasa sayasiya
Ya liraya yaraliya
Ya dayuda dayudaya
Ya dayani niyadaya
Disambung mantra sepigeni:
“ingsun ambukak sadulurku sepigeni kang asal saka geni
nurka, dim, kang dadi wijining sakehing urip, ingsun
tamakke apa kang katon luluh geseng dadi awu saking
kodratullah””
Dalang juga membaca mantra sepiangin:
“ingsun ambukak sadulurku sepiangin, kang asal saka
angin ngabdul musamad, kang dadi wijining sakehing
nyawa, ingsun sapokake mangetan terus sagara wetan,
mangidul terus segara kidul, mangulon terus sagara kulon,
mangalor terus sagara lor, saking kodratullah”.
Dilanjutkan juga mantra sepibanyu:
“ingsun ambukak sadulurku sepibanyu, kang asal saka
banyu tahura, kang dadi wijining sakehing roh, ingsun
siramake ing banjar pakarangane si M. Hatmakarjana
adhem asrep saking kodratullah”.
Setelah itu dalang membaca mantra sepibumi:
“ingsun ambukak sadulurku sepibumi, kang asal saka
bumi bahura, kang dadi wijining sakehing jisim, ingsun
tamakake ing banjar pekarangane M. Hatmakarjana
kuwat santosa slamet, saking kodratullah”.
Dalang kemudian melanjutkan mantra kalacakra:
Kalamusa samulaka
Kayaramu murayaka
Kadibuda dabudika
Kalibaya yabadika
Mantra terakhir yang diucapkan yaitu pesinggahan:
“hong singgah-singgah kala singgah durga suminggah,
kang cucuk wesi sirah, sing kama salah, sakehing kala
padha suminggah, aku sajatining wasesa”.
Sebagai mantra penutup dalang kemudian membaca lagi Setelah dalang selesai mengucapkan mantra-mantra,
Batara Kala yang berada di balik layar hilang segala
kekuatannya, kemudian ia ingin kembali ke tengah
samodra, namun minta syarat. Dalang memberikan
jawaban: “Semua sajen itu disediakan untukmu, carilah
sendiri, apabila telah kamu dapatkan janganlah merasa
gembira dan pergilah sekarang juga, bawalah seluruh bala
tentaramu, jangan ada yang ketinggalan”. Batara Kala
lalu pergi meninggalakan sang dalang.
Durga mengalami kesengsaraan dan ia telah tiba di
desa Maja bertemu dengan dalang Sejati. Durga minta
diruwat dan dalang Sejati menyanggupinya. Akhirnya
Durga teruwat, namun hanya “sifat halusnya” saja,
sedangkan “sifat kasarnya” belum dapat teruwat,
karena ia masih berujud raseksi. Durga kemudian
kembali ke Kahyangan, namun setelah sampai di sana
dipersilakan Batara Guru untuk mendiami Kahyangan
Setragandamayu (Krendawahana) untuk memerintah jin,
setan, brekasakan.
Batara Bayu mendapat perintah Batara Guru agar
mengembalikan wujud (membadarkan) Dalang Sejati,
penggender, dan nayaga. Batara Bayu berhasil mengubah
wujud (merucat) ketiga tokoh tersebut sehingga pulih
menjadi Batara Wisnu, Dewi Sri, dan Batara Narada.
Mereka kembali ke Kahyangan.
Upacara ruwatan yang diselenggarakan oleh masyarakat
Jawa tidak terlepaskan dengan aspek mantra-mantra, yang
kemudian dilakukan dan diucapkan oleh dalang pada
waktu ia mengungkap ciri-ciri pada dada Batara Kala.
Mantra-mantra yang diucapkan oleh dalang pada waktu
meruwat tersebut yaitu: carakan balik, setra bedhati,
sepigeni, sepiangin, sepibanyu, sepibumi, kalacakra,
dan pesinggahan. Demikian sebuah kata yang berasal
dari mulut manusia dapat memperoleh kekuatan gaib,
yang tampak makin kuat, bergantung pada sekti orang
yang mengucapkannya dan bisa diarahkan kepada
orang yang mengucapkan mempunyai maksud baik atau
jahat; tanggapan-tanggapan yang boleh dikatakan pada
segala bangsa di dunia dihubungkan dengan pengertianpengertian
“berkat” atau “laknat” sudah terlalu terkenal
untuk dibicarakan (Berg 1974). Mantra yang terdapat
pada carakan balik, setra bedhati, dan kalacakra, dapat
dilihat adanya sesuatu yang terbalik. Sesuatu tersebut
yang dimaksud adalah susunan kata yang mengandung
daya magi dan merupakan suatu keseimbangan, seperti
halnya pada konsep klasifi katoris (kiri-kanan, atas-bawah,
baik-buruk, dsb), yang selanjutnya dapat dikaji bahwa
pola pemikiran demikian adalah suatu usaha manusia
untuk selalu menjaga keseimbangan, keselarasan, dan
keharmonisan dalam kehidupan manusia di dalam
masyarakat. Sedangkan mantra sepigeni, sepiangin,sepibanyu, dan sepibumi tersebut dimaksudkan bahwa
pembaca mantra, yaitu dalang, berusaha memanggil
dzat yang terdapat di alam, yaitu api, angin, air, dan
tanah yang dianggapnya sebagai saudara, selanjutnya
diharapkan dapat memberikan kekuatan dan membantu
segala usaha yang diidam-idamkan. Dengan demikian
maka dalang tersebut berusaha pula untuk menyatukan
dirinya dengan alam semesta. Pada mantra pesinggahan,
dalang bermaksud untuk menghalau dan menempatkan
segala durga (tindakan jahat), kama yang salah, dan si kala
pada tempatnya, agar tetap “singgah” di dalam alamnya,
janganlah mengganggu kehidupan manusia yang berada
di alam nyata.
Sajen termasuk perlengkapan upacara ruwatan yang
seharusnya ada. Sajen adalah segala sesuatu berupa
makanan yang secara khusus diperuntukkan bagi makhluk
supranatural (gaib) yang sering disebut makhluk halus.
Sajen merupakan srana, karena dipergunakan sebagai
sarana mengadakan hubungan dengan alam di luar
manusia. Oleh karena alam tersebut bersifat “halus”,
maka sajen tersebut hanya disantap baunya saja. G.A.J.
Hazeu mengatakan bahwa menurut kepercayaan orang
yang memberikan sesajian tadi bukanlah wujud lahiriah
makanan yang disajikan itu yang disantap oleh roh halus
leluhur, melainkan hanya baunya belaka (Hazeu 1979).
Dalam upacara ruwatan terlihat jelas adanya situasi
dan kondisi sakral; seperti telah diuraikan di atas, yaitu
pembacaan mantra-mantra oleh dalang, disertai sesajen
dan pembakaran kemenyan, juga bunyi-bunyian gamelan,
yang semuanya ini memungkinkan munculnya dayadaya
magi tinggi. Pada dasarnya pelaksanaan upacara
ruwatan ini adalah suatu usaha untuk mengadakan kontak
(hubungan) dengan dunia supranatural (gaib), sehingga para
penghuninya, yaitu roh-roh halus dapat dipanggil untuk
keperluan dan tujuan tertentu. Untuk dapat menambah
sarana kesakralan pada upacara ruwatan tersebut,
maka masyarakat Jawa yang meyakininya mengadakan
pertunjukan wayang purwa, yang diperkirakan timbul
pada zaman neolitikum dari praktek-praktek pemujaan roh
nenek moyang (Ulbrich 1970). Wayang adalah sarana ideal
untuk mengadakan upacara ruwatan ini, karena dengan
wayang, maksudnya adalah wayang di zaman paling
kuna (wayang purwa), dapat menyingkirkan mara bahaya,
seperti yang dikemukakan oleh G.A.J. Hazeu bahwa
dengan wayang dimaksudkan dapat menolak bala atau
sesuatu yang buruk, misalnya menolak mala petaka yang
akan tiba, atau kesengsaraan yang diderita oleh seseorang
karena perbuatan-perbuatan yang tersimpul dalam
tamsil, seperti orang yang memecahkan gandhik, orang
merobohkan dandang penanak nasi (Hazeu 1979).
Dalam upacara ruwatan, kecuali unsur sesajen, dalang pun
juga sangat menentukan, dalam arti dialah sesungguhnya
yang berfungsi sebagai penghubung
antara dunia nyata (provan) dengan dunia gaib (supranatural).
Pada
kelanjutannya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa
yang ada di dunia nyata mendapatkan pengaruh dari dunia
gaib, demikian pula mengenai alam semesta (jagad raya),
merupakan susunan yang teratur rapi dan bergerak sesuai
dengan rotasi dan revolusinya. Apabila salah satu unsur
jagad raya menyimpang dari ketentuan tersebut, maka
jagad raya akan mengalami kegoncangan, oleh karena itu
unsur yang satu dengan yang lainnya di dalam jagad raya
merupakan sistem yang tertata rapi, serasi, dan harmonis.
Pandangan yang menganggap bahwa alam semesta yang
terdiri dari jagad gede dan jagad cilik adalah satu kesatuan
yang serasi dan harmonis, tidak lepas satu dengan yang
lainnya dan selalu berhubungan, merupakan konsep
kosmis. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa peristiwa
yang terjadi di jagad cilik, karena mendapat pengaruh
dari jagad gede, atau sebaliknya yang mengakibatkan
kegoncangan. Konsep ini disebut magis. Dalam
masyarakat Jawa terlihat dengan jelas pula mengenai
tatanan kehidupan yang teratur rapi, kejelasan mengenai
fungsi dan kedudukan manusia dalam hubungannya
dengan manusia lain, alam semesta, dan Tuhan. Semuanya
ini berkaitan pula dengan pandangan bahwa alam semesta
pada prinsipnya tertata rapi, serasi, dan harmonis, seiring
dan selaras dengan kehidupan manusia dalam masyarakat.
Konsep yang ketiga ini disebut klasifi katoris. Ketiga
konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan
saling berpautan. Keteraturan manusiawi dan kosmos
adalah terkoordinasi, hal ini bagian dari suatu keseluruhan
dan bila bagian-bagian itu berusaha keras ke arah kesatuan
dan keseimbangan, hidup akan menjadi nikmat dan
tentram (Mulder 1984).
4. Kesimpulan
Adat istiadat Jawa yang kini masih hidup lestari,
diyakini, dan dikembangkan oleh masyarakat
pendukungnya,
Demikian dominan aspek wayang purwa sebagai sarana
upacara ruwatan, maka peranan dalang adalah sangat
penting untuk menggelar lakon ruwatan, antara lain
Murwakala, juga dalam usahanya untuk menghubungkan
dunia nyata dengan dunia gaib, dalam hal ini melepaskan
sukerta (aib) yang melingkupi seseorang.
Mantra-mantra dalam ruwatan merupakan susunan kata
yang mengandung kasekten (sekti), sehingga manusia,
dalam hal ini dalang dapat memperoleh kekuatan gaib.
Mantra-mantra yang diucapkan oleh Ki Dalang dalam
ruwatan itu dimaksudkan agar dapat menjauhkan
dan menghalau durga, kama salah, ataupun kala dan
menempatkannya di tempat yang semestinya atau pada
alamnya, setelah dalang tersebut berhubungan dengan
alam (api, angin, air, tanah) yang dianggapnya sebagai
saudara.
Konsep kosmis, magis, dan klasifi katoris dalam masyarakat
Jawa dapat terjabarkan bahwa masyarakat Jawa selalu
berusaha untuk menjaga keseimbangan, keselarasan, dan
keharmonisan dalam alam semesta, karena masyarakat
Jawa meyakini bahwa keteraturan manusia dan kosmos
adalah terkoordinasi.
Daftar Acuan
Holmes, Lowell D. 1965. Anthropology An Introduction.
New York: The Ronald Press Company.
Koentjaraningrat. 1969. Pengantar Antropologi. Jakarta:
P.D. Aksara.
Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan
Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.
Baried, Siti Baroroh. 1987. Panji: Citra Pahlawan
Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Suparjo. 1941. Ruwatan: Ingkang Karuwat Tiyang Adang
Karubuhan Dandang. Jakarta: Ruang Naskah FSUI.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN
Balai Pustaka.
Bratawijaya, Thomas Wijasa. 1988. Upacara Tradisional
Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Wibisono, Singgih. 1983. “Wayang Sebagai Sarana
Komunikasi” dalam Seni dalam Masyarakat
Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Suseno, Franz Magniz. 1985. Etika Jawa. Jakarta: PT
Gramedia.
C. C. Berg. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Terjemahan
MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 6, NO. 1, JUNI 2002 35
mengandung sikap dan pandangan serta pola pemikiran
masayarakat itu. Adat-istiadat itu mengandung tata
nilai, aturan, norma, maupun kebiasaan yang mengikat
masyarakat penganutnya sekaligus merupakan cita-cita
yang diharapkan untuk mencapai maksud dan tujuan
yang didambakan.
Upacara ruwatan sebagai salah satu adat-istiadat Jawa
merupakan tradisi yang kini masih dipercayai sebagai
sarana melepaskan, menghalau, atau membebaskan
seseorang dari ancaman mara bahaya yang disebabkan
oleh suatu peristiwa tersimpul dalam tamsil.
Murwakala, juga dalam usahanya untuk menghubungkan
dunia nyata dengan dunia gaib, dalam hal ini melepaskan
sukerta (aib) yang melingkupi seseorang.
Mantra-mantra dalam ruwatan merupakan susunan kata
yang mengandung kasekten (sekti), sehingga manusia,
dalam hal ini dalang dapat memperoleh kekuatan gaib.
Mantra-mantra yang diucapkan oleh Ki Dalang dalam
ruwatan itu dimaksudkan agar dapat menjauhkan
dan menghalau durga, kama salah, ataupun kala dan
menempatkannya di tempat yang semestinya atau pada
alamnya, setelah dalang tersebut berhubungan dengan
alam (api, angin, air, tanah) yang dianggapnya sebagai
saudara.
Konsep kosmis, magis, dan klasifi katoris dalam masyarakat
Jawa dapat terjabarkan bahwa masyarakat Jawa selalu
berusaha untuk menjaga keseimbangan, keselarasan, dan
keharmonisan dalam alam semesta, karena masyarakat
Jawa meyakini bahwa keteraturan manusia dan kosmos
adalah terkoordinasi.
Daftar Acuan
Holmes, Lowell D. 1965. Anthropology An Introduction.
New York: The Ronald Press Company.
Koentjaraningrat. 1969. Pengantar Antropologi. Jakarta:
P.D. Aksara.
Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan
Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.
Baried, Siti Baroroh. 1987. Panji: Citra Pahlawan
Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Suparjo. 1941. Ruwatan: Ingkang Karuwat Tiyang Adang
Karubuhan Dandang. Jakarta: Ruang Naskah FSUI.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN
Balai Pustaka.
Bratawijaya, Thomas Wijasa. 1988. Upacara Tradisional
Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Wibisono, Singgih. 1983. “Wayang Sebagai Sarana
Komunikasi” dalam Seni dalam Masyarakat
Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Suseno, Franz Magniz. 1985. Etika Jawa. Jakarta: PT
Gramedia.
C. C. Berg. 1974. Penulisan Sejarah Jawa.
Terjemahan S.Gunawan. Jakarta: Bhratara.
Hazeu, G. A. J. 1979. Kawruh Asalipun Ringgit Sarta
Gegepokanipun Kaliyan Agami ing Jaman Kina.
Dialihaksarakan oleh Sumarsana dan dialihbahasakan
oleh Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K.
Ulbrich, H. 1970. Wayang Purwa Shadows of The Past.
Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari
Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil.
Jakarta: PT Gramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s